Monday, July 23, 2018

Salah Siapa ???

Assalamualaikum wr. wb.

Selamat siang menjelang sore, salam kenal. Ini postingan petama saya di blog saya yang ini. Latar belakang saya membuat blog ini adalah bermula sejak saya mulai terjun di dunia pendidikan sejak tahun 2014. Ketika saya melihat anak - anak sekolah setingkat SMP yang usianya di kisarn 12 - 16 th yang dimana anak - anak di usia itu memang merupakan usia yang rentan, yang masih belum bisa berfikir dewasa secara utuh.

Ya, karena saya pun mengalami, bukan saya saja, bahkan kalian semua pun pasti mengalaminya terutama yang berusia 17+ hahahaha

Namun ketika awal saya melihat mereka bukan apa yang saya pernah rasakan dan pernah saya jalani, kenyataan berbicara lain, yang disebabkan oleh banyak sekali faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Anak jaman now sudah banyak terkontaminasi oleh produk produk buatan manusia, sedangkan anak jaman old ( generasi dimana saya dan kawan kawan eksis sebagai anak - anak ) masih banyak diperngaruhi oleh produk - produk original ciptaan Yang Maha Kuasa. Atau dengan kata lain, jika anak sekarang dipengaruhi oleh Smartphone sebagai pegangan hidupnya yang membawa mereka terjun sangat dalam sekali di dunia maya, anak jadul lebih banyak di pengaruhi oleh alam, dunia nyataah yang kami jalani saat jaman dulu. Ok saya tidak akan banyak bicara tentang anak jaman old untuk saat ini. Yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini adalah tentang anak anak jaman now yang saya jika melihat mereka sebagai murid - murid saya, mereka membuat emosi saya campur aduk, kadang mereka membuat saya bangga, kadang mereka membuat saya gembira, kadang merka membuat saya merasa frustasi, kadang merka membuat saya emosi dan banyak lagi perasaan - perasaan lain yang jika saya harus menggambarkannya dengan kara kata, semua jam jatah ngajar saya selama 1 semester mungkin tidak akan cukup. hehe

Dari sekian banyak perasaan yang saya rasakan karena tingkah mereka, yang akan saya bahas sekarang adalah tentang perilaku mereka yang membuat saya miris, marah, kesal bahkan muak. Ya, bagaimanapun saya yang baru berusia 25 tahun, baru punya 1 istri dan baru punya anak yang usianya masih -8 bulan alias anak saya masih dalam kandungan selama 1 bulan saja ( saya minta doanya semoga selama proses kehamilan istri saya dan anak saya yang pertama diberikan kelancaran, pun ketika kelah anak saya tiba waktunya utnuk menghirup udara Bumi kelak dia akan menjadi anak yang soleh / solehah, berbakti kepada orang tua, mau berjuang untuk agama dan negara, supaya tidak menjadi orang yang menyusahkan masyarakat.  aamiin ) tidak bisa menyembunyikan perasaan yang timbul karena ulah mereka. Mereka membuat saya marah ketika saya meihat bagaimana bisa mereka banyak sekali melanggar peraturan - peraturan di sekoah yang sifatnya sangat mendasar? mungkin saya dan kawan - kawan dulu pun seperti itu, tapi saya pikir - pikir dan ingat kembai, saya dan kawan - kawan ketika seusia dengan mereka tidak separah mereka. Nakal kami mungkin hanya sekadar bercanda dengan sebaya saja. Pengalaman, saya tidak pernah punya catatan di guru BP. adapun kejadian ketika saya kena tampar oleh guru, saya rasa saya hanya jadi korban saja, ketika teman saya perempuan yang sehari - hari kami bercanda, ketika suatu saat entah apa yang saya lakukan kepada dia, dia menangis dan melapor kepada guru, padahal saya tidak melakukan apapun . yang hasilnya berkat laporan dia ke guru, saya langsung di tampar oleh guru yang lain ketika tau si dia menangis dan katanya nangisnya itu di sebabkan oleh saya.
Kembali lagi, utnuk anak - anak jaman sekarang, mulai dari datang ke sekolah terlambat, datang ke sekolah bawa tas tapi kosong ( gimana nyatet pelajaran coba? ), bawa Smartphone padahal dilarang (untuk sekolah tempat saya ngajar) bahkan isinya pun kadang banyak konten konten yang negatif yang membuat akal sehat kita geleng geleng, yang lebih parah kelakuan di luar sekolah. Ada beberapa siswa yang ikut - ikutan "gengster", dimana gengster ini merupakan kriminalitas yang di legalkan menurut saya. IMI meegalkan mereka sebagai klub motor, mungkin dengan pertimbangan ada beberpa akegiatan sosial yang mereka lakukan, namun jika di bandingkan mungkin rasio perbandingan kegiatan sosial dan kegiatan sampahnya akan menghasilkan angka 1 : 1000, mungkin (ini hanya pemikiran saya) berdasarkan apa yang saya lihat dikehidupan saya. Minum - minuman keras merupakan salah satu hal tabu yang mereka anggap kegiatan wajar, kita tau sendiri bahwa minuman keras itu memabukan, orang yang mabuk itu kesadarannya hilang sebagian, mungkin itu yang menyebabkan kegiatan sampah yang mereka lakukan selain minum minuman keras, hanya satu salahnya tapi akan mengakibatkan kesalahan yang lain, belum lain Narkoba. Sudah merupakan rahasia umun ketika di suatu daerah terdapat penjual miras / narkoba. karena "katanya" aparat mun menikmati hasil penjualan dari mereka, katanya loh ya. Saya kurang tau faktanya, namun kita dengan logika yang benar tidak akan pernah bisa menutup mata bahwa sanya para penjual dan aparat memang sudah bekerja sama, karena jika kita tutup mata kita akan mendengarnya, jika kita tutup mata dan teling kita akan menciumnya, ketika kita menutup semuanya, badan kita akan merasakannya, orang kehilangan sebagian kesadarannya akan menyentuh apa saja yang ada di dekat mereka. kembali lagi soal anak - anak sekolah yang tidak berdosa yang ikut terjerumus lingkaran mereka, ada perumpamaan ketika kita bergaul dengan tukang minyak, kita akan tertular bau minyaknya. seperti itulah gambarannya kurang lebih, jika kita lihat perumpaan lain lagi, di Islam pun ada suatu keterangan, "jika kita mengikuti pergaulan suatu kaum, maka kita akan termasuk kaum tersebut" (mohon di koreksi jika salah). Sampai saya menemukan fakta 2 siswa SMP telibat sebuah pembacokan dan mereka berdua merupakan eksekutornya (ini fakta). Dimana? Silahkan cari tau sendiri, bukan bermaksud melindungi, tapi hanya saja tidak tega, karena tidak perlu resah lagi sudah di tangani oleh pihak kepolisian. Sampai kegiatan yang lain lagi, yaitu mereka biasa menyebutnya "ngompreng" (adalah suatu kegiatan nebeng mobil mobil pengankut barang untuk melakukan perjalanan yang entah tujuan mereka apa dan kemana) saya sinyalir, inipun terlahir dari budaya anak gengster yang biasa hidup di jalanan dan dari anak punk (entah punk itu merupakan gengster atau bukan, saya tidak mau tau) yang jelas budaya mereka sampai meracuni anak - anak SMP yang seharusnya mereka menikmati masa indah yang sebenarnya, bukan masa indah yang mereka jalankan sekarang yang merupakan kesemuan belaka, sampai jatuhlah seorang korban jiwa. di sinilah saya merasa sangat kesal sekali, naik darah saya, ada juga rasa senang (agak gila mungkin, tapi dengan adanya korban jiwa saya harapkan yang menjadi korban tersebut bisa menjadi contoh bagi anak - anak lain supaya STOP melakukan hal bodoh seperti itu).

Apakah kita akan terus diam membiarkan hal ini terjadi, harus menunggu sampai jatuh berapa korban lagi? harus bagaimana lagi supaya saya bisa melihat anak - anak sesuai harapan saya, dimana saya selalu berharap dalam lamunan saya, saya bisa melihat anak - anak SMP patuh, taatentah terhadap guru, orang tua, agama??? jangan patuh kepada hal - hal yang sekarang jadi fakta. Meskipun ok ada juga banyak anak yang berhasil di jaman sekaran. Tapi saya beri perumpamaan lagi, ketika seorang guru menjelaskan tentang perkalian kepada siswanya :

8 x 1 = 7
8 x 2 = 16
8 x 3 = 24
8 x 4 = 32
8 x 5 = 40
8 x 6 = 48
.
.
.
.
.
.

Seketika para siswa tertawa melihat penerangan gurunya, namun sang guru tersenyum sambil mengatakan bahwa inilah pelajaran bagi kalian, ketika kalian melakukan satu kesalahan, kesalahan itu akan di lihat sebagai hal yang sangat besar, padahal perbuatan baik kita lebih banyak daripada 1 kesalahan itu. Seperti itu mungkin perumpamaannya, ketika ada salah satu siswa yang seperti tadi saya ceritakan, maka siswa yang lain akan terlupakan padahal siswa yang lain adalah siswa berprestasi.

Fakta lain kita bisa lihat di sosial media, iis dahlia menolak peserta audisi talent show menyanyi karena pakaian. dia di caci maki habis habisan di media sosial padahal banyak sekali karya dia bukan? seperti itulah.

Media tidak pernah menanyakan siapakah sang juara umum di SMP anu, siapakan juara kelas di kelas VIII E? kapan media menanyakan itu? tidak pernah, fakta yang saya alami. tapi ketika mendengar kabar burung mengenai siswa tawuran, sekolah langsung ramai di banjiri kunjungan beralasan silaturahim dari PERS!!!!

Disini, yang saya maksudkan adalah ketika terdapat salah satu siswa yang mempunyai catatan tidak baik. Pihak sekolah lah yang dituntut tanggung jawab, bisa mendidik tidak kah para guru di sekolah? padahal saya sendiri mati - matian mengingatkan para siswa supaya menjadi siswa yang baik (yang lainpun sebagian ada yang bersama saya). tapi apakah betul semuanya sekolah yang salah? sekolah yang harus bertanggung jawab? kemana orang tua para siswa tersebut? kemana pendidikan dasar mereka sehingga di SMP 8 x 7 pun ada beberapa siswa yang masih tidak bisa menghitungnya?
Yang lebih membuat saya kesal bukan kepalang lagi ketika mendengar tentang orang tua dari korban jiwa dalam rangka "ngompreng" tadi adalah orang yang hobinya minum miras? edyaaaaaaaan....... buntu rasanya, siapa lagi mitra pendidik yang dapat membantu kami para guru? ataukah pertanyaan itu harusnya salah? harusnya keluar dari mulut orang tua kah?

Yang perlu di ingat dan jadi pesan saya dari tulisan yang singkat ini, bahwa pendidikan bukanlah proses instant setahun dua tahun, pendidikan itu berjalan sejak bayi datang ke dunia, ketika berkumandang adzan dari mulut sang ayah di samping telinga sang bayi, ketika dia beranjak meminta susu dengan perkataan nyang terbata bata , ketika dia mulai lari mengajak bermain para orang tua. Orang tualah menurut saya peran penting dan bahkan utama dalam pendidikan. tidak perlu dengan apa - apa. Cukup kasihi dan sayangi anak - anak kita dengan setulus hati, anak adalah buah cinta dari para orang tua yang merupakan anugrah paling indah, tanpa bisa di gantikan oleh materi lainnya yang juga merupakan titipan yang harus dijaga, dididik, di arahkan, dan diingatkan. Saya bersedia membimbing anak - anak yang ada di sekolah bukan karena saya anak muda yang belum punya anak di dunia nyata yang belum merasakan bagaimana menjadi orang tua yang baik itu. Namun saya merasakan kegelisahan dari anak - anak yang terjerumus dalam lingkaran yang tadi saya sebutkan yang mempertaruhkan waktu mereka di dalam kesemuan, saya tau faktanya dari ucapan mereka, dari tangisan mereka yang orang tuanya tidak lagi ada entah ayah / ibu atau bahkan keduanya sudah tidak ada. Maka akal sehat mana yang akan tega membiarkan anaknya menangis lagi, akal sehat mana yang bisa membiarkan anaknya menjadi benalu di dunia sosialnya?

Oleh karena itu jika memang masih punya akal sehat, gunakanlah, jangan buang harta berharga itu yang hanya di anugrahkan kepada manusia wahai orang tua, guru, lingkungan masyarakat (penyedia tempat "nognkrong" di saat jam pelajaran) saya mengajak lewat tulisan yang hina ini, yang mungkin harusnya tidak laya kdibaca untuk mari bersama mengaping dunia nyata untuk para siswa yang kini berada dalam kesemuan, tariklah mereka ke dunia nyata yang kita aping. Sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada yang memiliki jiwa raga ini kepada Allah SWT yang tidak pernah perhitungan dalam memberikan segalanya untuk kita. Jangan buat kita menjauh dari Allah lewat kesalahan kecil mengacuhkan putra putri kita.

Itulah tulisan pertama saya di blog ini, mungkin masih banyak kata rancu, lebay, dan lain - lain yang bisa dipersalahkannetizen. saya tidak mencari penghargaan dari sini, saya hanya mencurahkan apa yang selama ini harsunya saya curahkan. Semoga Allah selalu kuatkan iman ISLAM kita, semoga Allah selalu lindungi kita dari kejahatan dan ketidak adilan yang tidak berdarah namun menyakitnya. Semoga kita jadi hamba yang utuh mengikuti cahaya dan menjauhi api. terimakasih.

Wassalamuaaikum wr. wb.

No comments:

Post a Comment